
KUE RANJANG
Kue keranjang yang rasanya manis terbuat dari tepung ketan dan gula. Kue keranjang berasal dari nama nian gao. Nama ini punya arti tersendiri. Kata "kue" atau gao memberikan makna yang sama dengan kata dan arti "tinggi", sedangkan kata nian berarti "tahun" jadi secara simbolis diharapkan jabatan maupun kemakmuran semakin tahun dapat naik semakin tinggi.
Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Kue keranjang yang dijadikan sesaji sembahyang ini, biasanya dipertahankan tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15).
Di samping itu berdasarkan mitos atau dongeng Dewa yang paling bisa mengetahui, keadaan di rumah adalah Dewa Dapur "Zao Wang Ye" (“Ciao Ong Ya” dalam bahasa Hokkian) sebab segala macam gosip banyak disebar luaskan pada saat sedang ngobrol di dapur ataupun dari makanan yang disajikan bisa mengetahui keadaan keluarga tersebut, apakah mereka keluarga mampu atau miskin.
Setahun sekali sang Dewa Dapur ini pulang mudik cuti untuk sekalian laporan ke Surga. Sang Dewa Dapur ini terkesan rewel dan cerewet. Untuk menghindar agar Dewa Dapur tidak memberikan laporan yang salah, maka sebaiknya mulutnya disumpal terlebih dahulu dengan Kue Keranjang agar mulutnya menjadi lengket dan akhirnya tidak bisa banyak bicara dan kalau bisa bicara sekalipun pasti hanya hal yang manis-manis saja. Begitulah cerita kenapa kue keranjang sangat lekat dengan perayaan tahun baru imlek.